Kita tidak selalu dihadapkan dengan kondisi dan orang-orang yang sesuai dengan keinginan kita. Salahsatu contohnya dalam urusan pekerjaan, kita seringkali berbenturan dengan orang-orang yang tidak sesuai dengan kita inginkan, atasan yang tidak sesuai dengan bayangan kita, team yang tidak seirama dalam bekerja sama, aktivitas pekerjaan yang sering membuat lelah dan banyak hal lainnya yang seringkali membuat kita tidak suka, marah, stress, benci, kecewa dan sejumlah reaksi emosi lainnya.

Namun ada kalanya saat bertemu dengan kondisi tersebut, kita seolah tak mampu dan tak memiliki kuasa untuk mengambil sebuah keputusan, yang mau tidak mau, suka gak suka pilihannya tetap berada di kondisi tersebut dan memaksa kita untuk berdamai dengan keadaan.

Berdamai dengan keadaan artinya telah mempertimbangkan pilihan-pilihan lainnya, namun nyatanya tidak ada pilihan yang lebih baik, karena dalam setiap pilihan tidak pernah terlepas dari konsekuensi enak dan tidak enaknya.

Ada 5 tips cara bagaimana berdamai dengan keadaan :

1. UBAH POSISI DIRI DARI “KORBAN” MENJADI “PELAKU”

Posisi ”KORBAN” artinya kita adalah korban atas keputusan yang sudah kita buat, saat kita memposisikan diri kita ”KORBAN” artinya semua keputusan yang kita ambil sejak awal, adalah keputusan orang lain bukan keputusan kita sendiri.

Memilih pekerjaan, memilih kantor, memilih pasangan, memilih jalan yang dilalui seolah-olah apapun itu seolah Olah pilihan orang lain bukan pilihan kita.

Dampaknya, kita akan selalu menyalahkan faktor luar atas ketidaknyamanan yang kita alami. Sebagai contoh saat kita terlambat ke kantor dan diomelin si bos, kita akan menyalahkan gara gara macet jadinya terlambat, gara-gara anak di pagi hari merengek, gara-gara hujan jadinya gak bisa cepat berangkat dsb.

Jika terus menerus menjadi playing victim, selama itu juga tidak akan pernah ada perubahan atas hidup kita menjadi lebih baik karena fokus pikiran akan selalu menyalahkan faktor luar bukan fokus ke faktor internal diri sendiri

Posisi ““PELAKU artinya kita adalah PELAKU yang bertanggung jawab atas pilihan-pilihan yang sudah kita buat, memilih pekerjaan, memilih pasangan, memilih jalan, dan sejumlah pilihan lainnya adalah pilihan kita sendiri. Menyadari dalam setiap pilihan selalu ada konsekuensi enak dan tidak enak.

Konsekuensi rasa tidak nyaman yang dihadapi, merupakan konsekuensi atas keputusan-keputusan yang kita ambil sejak awal, dikarenakan diri kita sendiri, bukan karena orang lain.

Maka dampaknya kita tidak lagi menyalahkan orang lain dan faktor luar, namun fokus ke faktor internal diri sendiri. Apa kontribusi diri sendiri dalam menghadapi rasa tidak nyaman yang ditimbulkan oleh pilihan yang dipilih diri sendiri.

Dengan kita mengambil alih tanggung jawab, mental kita mulai naik kelas ke level yang lebih tinggi, seperti halnya disekolahan yang lulus ujian akhir dialah yang bisa naik kelas ke kelas berikutnya. Kecuali ingin tetap duduk di bangku SD supaya ujiannya gampng.

2. PILIH MAKNA YANG MEMBERDAYAKAN

Dalam setiap peristiwa, selalu ada MAKNA dan PESAN yang tersimpan. Kita sendirilah yang punya kuasa untuk MEMILIH MAKNA terbaik dari sekian pilihan makna yang tersedia

Kita punya kuasa mengendalikan pikiran kita sendiri dalam menentukan makna yang justru dampaknya membuatmu menjadi tidak berdaya, lemah, negatif atau memilih makna yang memberdayakanmu, menguatkanmu yang nantinya akan berdampak kepada pikiran dan perasaamu.

3. ACCEPTANCE & FRIENDSHIP WITH REALITY

Ketika bertemu dengan kondisi dan keadaan yang kita tidak suka, seringnya ingin lari, pergi, menjauh. Namun jika kondisi itu seringkali terulang setiap kali sudah lari, pergi dan menjauh, kita akan bertemu lagi, dengan kondisi yang sama, karakter orang-orang serupa, sebuah keadaan dengan polanya sama.

Maka ada saatnya kita perlu menghadapinya tanpa melarikan diri lagi, belajar bersahabat dengan kenyataan yang tidak disukai, menyadari itulah adalah chapter yang perlu dihadapi dan diselesaikan.

Ada saatnya kita perlu menghadapi kenyataan & menerima “rasa sakitnya”. Ketakutan yang sering dialami dalam menerima kenyataan, karena tidak mau merasakan “rasa sakitnya”. Padahal dengan menerima kenyataan dan menghadapi rasa sakit itulah penawar tercepat dalam menyembuhkan luka luka yang ditimbulkan si rasa sakit

4. PELUK “RASA SAKIT” NYA

Rasa sakit yang dimaksud adalah berupa rasa tidak nyaman yang kita alami saat belajar menerima kenyataan seperti pada point ke-3 di atas, jenisnya bermacam-macam bisa rasa bosan, rasa benci, rasa kesal, rasa dendam, rasa marah dan jenis rasa lainnya yang membuat diri menjadi tidak suka.

Memeluk rasa sakit artinya kita tidak lagi menolak untuk merasakan sakitnya, tidak lagi mencari pelarian sebagai penawar sesaat agar rasa sakit itu hilang

Sebagai contoh gambaran memeluk rasa sakit, seperti waktu kecil tidak suka disuntik imunisasi, peluk rasa sakitnya yaitu saat jarum suntik mulai menusuk kulit dan muncul sensasi gak nyaman ditubuh, tarik nafas secara perlahan dan rasakan segenap rasa sakit itu, imaginasikan sedang memeluknya.

Ketika “rasa sakit” itu mampu kita peluk dengan segenap jiwa, maka keindahan dibalik kejadian itu akan segera menghampiri

5. BERIKAN APRESIASI

Ketika langkah 1-4 mampu kita lewatin, percayalah ada peristiwa indah yang tersimpan disana. Proses naik tangga kesadaran dan pendewasaan diri telah dimulai.

Selalu ada keindahan dan rasa syukur tersimpan dibalik semua peristiwa. Bahkan kita akan mengapresiasi, bersyukur, berterimakasih atas semua “rasa sakit” yang telah mampu dilewati, menempa diri dan menjadikan mental kita lebih kuat dari sebelumnya.